TUTUP MENU PORTAL
Pendaftaran Pelatihan


Ciloto Learning
Center


Pelaporan Diklat


Monitoring Sertifikat


Analisis Kebutuhan
Diklat


Akreditasi Ciloto


Perpustakaan


Elogbook


Whistle Blowing
System


Penataan Arsip
WBK

M
E
N
U

P
O
R
T
A
L

Detail Info Terkini

Isi Informasi Tentang Kegiatan/Berita Di BBPK Ciloto

Meningkatkan Sistem kekebalan Tubuh Pada masa Pandemi Covid-19

Dipublikasi Pada: Senin, 27 April 2020 - 13:05 WIB


Persoalan akibat Covid 19 dari wabah sudah menjadi pandemi.  Disebut pandemi salah satunya karena wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas. Pertama kali terjadi di Wuhan, kemudian  menyebar ke Tiongkok dan sekarang sudah mencapai 120 negara yang terjangkit. Bukan cuma mengancam kesehatan masyarakat, tapi juga akan berdampak pada persoalan ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Banyak orang belum paham gejala infeksi virus Korona yang mirip dengan penyakit flu. Kewaspadaan belum terbangun sepenuhnya di tengah masyarakat. Pola pikir yang menganggap remeh gejala infeksi menjadi ancaman makin meluasnya penyebaran virus corona. Proses penyebaran komunitas (community spread) menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan, sebab seseorang bisa terinfeksi dengan tanpa sadar kapan dan dimana hal tersebut terjadi.
Permintaan agar masyarakat melakukan social distancing kini masih sebatas imbauan dan tentu tidak cukup. Peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sudah diberlakukan di beberapa tempat namun masih , banyak orang masih mengabaikan dengan sengaja imbauan ini.. Masih banyak pihak yang melakukan kegiatan di luar rumah, walaupun himbauan “di rumah saja” sudah banyak didengung-dengungkan.
Selain itu masih ada orang yang dengan sengaja menyebarkan isu-isu untuk kepentingan pribadinya menyebarkan berita bohong (hoaks) dengan segala macam bentuk, terutama penyebaran ketakutan. Sampai hari ini, masih banyak hoaks yang menyebar dan membuat simpang- siur , juga isu-isu pengobatan alternatif yang belum terbukti kebenarannya.
Stigma masih ada di masyarakat. Stigma lebih berbahaya dari virus itu sendiri. Stigma bisa menimbulkan stereotip dan asumsi. Stereotip ini bisa memperluas ketakutan dan merendahkan seseorang yang telah terpapar virus corona. Pada tingkat yang lebih parah, stigma bisa membuat seseorang menghindari pertolongan, pemeriksaan, dan pengujian,bahkan yang parah sampai ada warga yang menolak penguburan orang yang meninggal karena virus covid 19 di daerahnya.
. Dan yang masih menjadi persoalan juga adalah masih banyak orang yang belum paham bahwa sebenarnya penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya asal menjaga dirinya dengan meningkatkan kekebalan tubuhnya dan mengikuti anjuran yang disarankan oleh pemerintah . Oleh karena itu perlu informasi yang benar, cepat, tepat dan cermat agar masyarakat berpotensi tertular tahu pencegahan yang harus dilakukan dan pelayanan kesehatan yang diperlukan serta harus mampu menumbuhkan kepercayaan dan rasa optimisme dalam penanganan penyakit ini. Sebenarnya, virus ini tidak mudah menular jika orang tersebut punya kekebalan tubuh yang bagus
Sistem imun atau daya tahan tubuh adalah mekanisme tubuh manusia untuk melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh manusia. Benda asing tersebut bisa berupa virus, bakteri atau organ transplantasi dan lain-lain. Mekanisme dalam tubuh yang terjadi, pertama-tama memori sel berusaha mengenal benda asing yang masuk ke dalam tubuh dan disimpan dalam ingatannya, hal ini disebut reaksi imunitas primer. Apabila benda asing atau virus itu datang untuk yang kedua kali sel memori akan lebih cepat dan sangat efektif merangsang sistem imunitas untuk mengusir dan melawan benda asing tersebut dibandingkan ketika pertama kali masuk.
Saat covid-19 melanda sekarang ini imunitas tubuh merupakan hal yang penting untuk dijaga. Dengan imunitas yang baik maka serangan virus corona penyebab penyakit dapat dicegah. Dalam diri individu dengan imunitas yang baik, virus tidak dapat menyebabkan dirinya menjadi sakit. Namun, pada saat stress atau depresi, imunitas tubuh akan berkurang dan memberi peluang lebih besar untuk virus corona menyerang tubuh kita.
Covid-19 yang diakibatkan oleh Virus Corona SARS-CoV-2 merupakan self limiting disease atau penyakit yang bisa sembuh sendiri berbasis penguatan imunitas tubuh. Upaya-upaya untuk meningkatkan status imunitas menjadi kunci untuk menjaga diri agar tidak rentan terhadap penyakit. Penguatan imunitas juga langkah yang dilakukan dalam upaya perawatan dan pengobatan pasien positif Covid-19. (Yurianto,2020)

Pasien virus corona bisa menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Beberapa hanya mengalami pilek ringan, sementara yang lain harus dirawat di rumah sakit, bahkan mati karena paru-parunya meradang dan terisi cairan. Sebaliknya, sejumlah kasus infeksi virus ini juga menunjukkan tidak adanya gejala apapun pada pasien yang dideteksi positif.
Seorang professor kedokteran ahli pengobatan kardiovasculer di Brigham and Women’s Hospital dari Harvard Medical School Mandeep Mehra MD mengatakan bahwa "Apa yang biasanya terjadi adalah periode di mana virus terbentuk dengan sendirinya dan tubuh mulai menanggapinya. Itulah yang kami sebut sebagai gejala ringan," jika virus berada di saluran pernapasan, pasien terserang batuk. Sementara apabila virus ada di saluran cerna, maka seseorang akan mengalami diare.


Sesungguhnya jenis virus yang sama dapat menyebabkan orang yang terinfeksi muncul dengan gejala yang berbeda-beda, para ilmuwan masih belum memahami secara keseluruhan terutama tentang virus corona penyebab Covid-19. Tetapi, salah satu yang bisa dikatakan adalah bahwa sistem kekebalan memainkan peran penting di sini. Sistem ini lah yang akhirnya menentukan apakah pasien akan pulih atau meninggal. Faktanya, sebagian besar kematian yang disebabkan oleh virus corona disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang rusak, bukan kerusakan yang disebabkan oleh virus itu sendiri.
Lutfia Ayu Azanella mengutip dari Medium (24/3/2020), saat pertama kali terinfeksi, tubuh akan mengeluarkan pertahanan kekebalan bawaan standarnya sebagaimana menghadapi jenis virus apa pun. Di sini terjadi pelepasan protein bernama interferon yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi di dalam sel-sel tubuh. Interferon juga merekrut sel-sel kekebalan lain untuk datang dan menyerang virus agar tidak menyebar. Idealnya, respons awal ini memungkinkan tubuh mendapatkan kendali atas infeksi dengan cepat, meskipun virus memiliki pertahanannya sendiri untuk menumpulkan atau melepaskan diri dari efek interferon.
DR. Rita Ramayulis, DCN , M.Kes Ketika webinar tanggal 26 April 2020, menyebutkan bahwa imunitas tubuh kita terdiri dari  fisik (kulit, slia, dll), Biologis (microflora usus),  Larut (enzim), Seluler (sel darah putih), Spesifik (Ig, Sel T dan Sel B).  Ketika tubuh kita bersentuhan dengan kuman, tubuh memiliki berbagai penghalang untuk mencoba menghentikannya masuk ke tubuh. Mereka memproduksi antimikroba termasuk yang paling relevan dengan virus corona, yaitu senyawa antivirus yang cukup berlawanan. Jika patogen melewati pertahanan ini, ia harus melawan sel darah putih atau sel kekebalan tubuh.. Gaya hidup yang sehat akan memastikan pertahanan tubuh dapat melawan virus-virus asing ini.

Download Karya Tulis Ilmiah Meningkatkan Sistem kekebalan Tubuh Pada masa Pandemi Covid-19 (Drg. Rieka Siti Kadaria, M.Kes)
 



<< kembali ke indeks berita



Berita Lainnya:


Survey Kepuasan Pelanggan (Periode Januari - Desember 2020)
Rabu, 01 Juli 2020 - 10:00 WIB
Pelantikan Agent Of Change (AOC) BBPK Ciloto 2020
Rabu, 17 Juni 2020 - 13:42 WIB
Apel Pagi Perdana Dalam Era New Normal
Senin, 08 Juni 2020 - 15:18 WIB
Pelantikan Dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Administrasi di Balai Besar Pelatihan Kesehatan BBPK Ciloto
Selasa, 02 Juni 2020 - 13:00 WIB
Pertemuan Rutin Pegawai Dalam Rangka Pembanguna POla Pikir dan Budaya Kerja
Selasa, 05 Mei 2020 - 16:53 WIB
Akupresur solusi mengatasi masalah susah tidur dan stress pada masyarakat akibat wabah covid-19
Senin, 27 April 2020 - 12:30 WIB